Ditulis pada tanggal 14 November 2017, oleh admin, pada kategori Informasi

Deklarasi Asosiasi Robotika Indonesia

Berbagai kalangan yang terlibat dalam dunia robotika Indonesia membentuk Asosiasi Robotika Indonesia (ARI) dan diresmikan pada Sabtu (29/1) di Jakarta. Asosiasi ini dirasa perlu karena banyak kalangan yang sebetulnya terkait dalam bidang robotika dan biasanya kalangan-kalangan tersebut bersifat parsial. “Bergerak sendiri-sendiri,” kata Dr. Ir. Wahidin Wahab, M.Sc., Ketua Umum ARI, pada saat deklarasi ARI di “rumah robot” World Robotic Explorer, Thamrin City, Jakarta.

Deklarasi ARI 29Jan2011

Deklarasi ARI 29 Jan 2011

Riset mengenai robotika dimulai dari lingkungan kampus dan perguruan tinggi. Pengenalan bahkan dimulai dari sekolah tingkat dasar. Selain itu, ada pula kompetisi-kompetisi, baik lokal maupun internasional. Tetapi, semua itu bersifat parsial dan sektoral, “terbatas pada kalangan tertentu saja,” kata Wahidin.

Karena latar belakang itulah, ARI dibentuk. Tujuannya secara umum adalah melakukan sinergi kebutuhan industri, pemerataan ilmu dan teknologi robotika, dan riset yang baik, plus kompetisi yang luas.

Indonesia sudah beberapa kali memenangi kompetisi internasional yang terkait dengan dunia robotika. Sayangnya, menurut Wahidin, belum ada wadah yang bisa menampung ilmu mereka. Industri kebanyakan masih mendatangkan robot dari luar negeri. “Lagipula ada peraturan pemerintah pada tahun 1980, entah sekarang masih berlaku atau tidak, yang melarang mesin otomatis dalam industri untuk melindungi tenaga kerja,” jelas Wahidin.

Selain dari sisi regulasi, tantangan lain dalam dunia robotika saat ini adalah di bidang teknologi. Robot yang dulu hanya “budak” kini harus bisa bekerja sama dengan manusia. Robot juga harus punya kemampuan belajar, komunikasi, dan punya mobilitas tinggi, bahkan ke tempat yang tidak mungkin dijangkau manusia.